Habib Rais Ridjaly (Abubakar Musya’a)

Habib Rais Ridjaly (Habib Abubakar Musya'a) bin Hasjim bin Husein bin Thahir
Habib Rais Ridjaly (Habib Abubakar Misa-a) bin Hasjim bin Husein Bin Thahir
Lahir Batu Merah, Ambon Maluku 11/08/1960 (Umur 62)
Tautan Sosial

Habib Rais dilahirkan hari Kamis, 11 Agustus 1960, pukul 15.30 WIT, di Daerah Batu Merah, Ambon Maluku, Indonesia. Masa pendidikan formalnya dilalui sejak 1964-1987. Semasa kecil selalu membaca buku-buku yang membahas tentang Filsafat. Sehingga pada usia 7 tahun, Habīb Raīs telah membaca buku filsafat, “Alam Pikiran Yunani”, sebanyak 20 jilid, dan pada usia tersebut, Habīb Raīs diberikan pendidikan oleh orang tuanya sendiri melalui metode ceritera tentang Abū Nawās (Mansyūr bin Muḥammad) yang hidup pada jaman Sulthān Hārūn ar-Rasyīd, di Baghdad. Habīb Raīs, pada masa itu, telah menghafal ± 100 judul ceritera tentang kecerdikan Abu Nawas tersebut. Pada usia 14 tahun (1974), Habīb Raīs dibimbing secara ruhani dengan bentuk yang masih sederhana oleh orang tuanya sendiri. Dan orang tuanya, sekarang, mendirikan tharīqat yang disebut “Tharīqat Taufīqiyyah An-Nūriyyah” atau beliau istilahkan juga dengan “Tharīqat Ahlūl Bait” yang bersumber pada keilmuan tentang Hakikat dan Ma’rifatullah.

“Sekalipun kepalamu putus, keyakinan ini tidak boleh engkau lepaskan karena inilah kebenaran yang hakiki itu”

Pada usia 17 tahun (1977), Habīb Raīs diberikan suatu pemahaman tentang pohon keyakinan agama oleh orang tuanya sendiri, yang akrab dipanggil Abah. Kata orang tuanya: “Sekalipun kepalamu putus, keyakinan ini tidak boleh engkau lepaskan karena inilah kebenaran yang hakiki itu”.

Tahun 1980, Habīb Raīs menyelesaikan pendidikan lanjutan atas di kota Sorong, Irian Jaya. Dan tahun 1982 mengambil perkuliahan di Universitas Kristen Indonesia (UKI), Fakultas Hukum Perdata. Perkuliahan dapat diselesaikan pada tahun 1987, Non-Skripsi serta tanpa Wisuda Kesarjanaan, dengan alasan bahwa biarlah para teman-temannya mengambil Wisuda dan Ijazah kesarjanaan, tapi beliau akan menghambil Wisuda dan Ijazah SIR-JANNAH (Rahasia Surga), dan bukan Sarjana.

Akhirnya, terbukti, pada saat teman sekuliahnya sedang mengusahakan pemutihan atas keterlambatan pelajaran mereka pada Universitas, karena terjadi peralihan sistem pendidikan dari sistem Paket kepada sistim SKS, Habīb Raīs pun pada masa itu menerima Khirqah dari Waliyullāh Syekh Yūsuf Tuanta Salamaka Tājul Khalwati Abū Al-Mahāsin Al-Maqāsari r.a. yang hadir bersama Tuanta Imam Lapeo dan Tuanta Masakilang Karaeng Bogo sebagai saksi. Kata Syekh Yūsuf Tuanta Salamaka: “Pemberian ini atas izin dan perintah dari Tuan kami, Syekh ‘Abdul Qādir Al-Jailāni yang tinggal di Baghdad“.

Inilah yang disebut SIR-JANNAH (Rahasia Surga) dan bukan SARJANA (sepotong kertas yang tidak menjamin keselamatan dunia maupun akhirat). Selain Gurunya Tuanta Salamaka Syekh Yūsuf, Habīb Raīs juga belajar pada guru-guru yang hidup di masanya sekarang. Banyak sekali para guru yang ditemuinya, tapi ada beberapa guru saja yang Habīb Raīs berbaiat kepada mereka untuk menjadi murid mereka dalam hal keilmuan tentang Haqīqatul Insān dan Ma’rifatullāh beserta segala ilmu pemahamannya yang terkait erat dalam rangka pengenalan yang dimaksud, yaitu:

  1. Habīb Hāsjim bin Husein bin ‘Ali bin ‘Abdurrahmān bin ‘Abdullāh (Shāhib-ul-Masilah Hadralmaut ) bin Husein Bin Thāhir (Maulā Bin Thāhir).
  2. Tuan Syekh Musthafā bin Syekh Muhyidīn (1967–1992).
  3. Habīb Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Umar Al-Idrūs Tanjung Batu Merah, Ambon, Maluku, Indonesia. (Kakek Ibunya Syarīfah Thalhah binti ‘Abdullāh bin Muhammad bin ‘Umar Al-Idrūs).
  4. Tuan Syekh Yusuf yang bergelar Tuanta Salamaka Tājul Khalwāti Abū Al-Mahāsin Al-Maqasari (1987–1991).
  5. Tuan Imam Lapeo asal dari Poliwali Mamasa (Polmas), Sulawesi Selatan (1987–1992).
  6. Habīb Muhammad Al-Gadri, yang dikenal dengan sebutan Habīb Marunda (1993–masih sampai sekarang tahun 2003).
  7. Beberapa Guru asal Jawa Timur yang sangat dalam ilmu kebatinannya (1995).
  8. Beberapa Guru asal Jawa Tengah yang sangat dalam ilmunya tentang pengenalan akan Hakikat dan Ma’rifatullāh (1995).
  9. Seorang guru dari Beas India yang sangat Masyhur namanya di kalangan Lintas Agama seluruh Dunia, yaitu Hazur Maharaj Charan Sing Ji (1983–1985).
  10. Syekh Hārūn ar-Rasyīd yang akrab dipanggil dengan nama Syekh Faye dari Sinegal (awal 2003–sekarang ini).

 

Sekilas tentang Guru-gurunya

1. Habīb Hāsjim Bin Husein Bin Thāhir

Orang Tuanya sendiri, yang menguasai perbendaharaan Ilmu Hakikat dan Ma’rifatullāh yang tuntas secara keilmuan, menguasai Ilmu peralihan bahasa Arab kepada bahasa Indonesia, dan beliau adalah salah satu manusia yang selama hidupnya mencatat setiap mimpinya tanpa terlewati seharipun, lengkap dengan hari, tanggal, jam dan detik. Mimpi-mimpinya itu ialah tentang pengkabaran pemahaman Ilmu Hakikat dan Ma’rifatullāh, serta segala kejadian yang belum terjadi di negara Indonesia maupun di seluruh dunia. Sebagai contoh, beliau bermimpi bahwa: Amerika akan dikejutkan oleh suatu ledakan yang sangat dahsyat sekali. Setelah sekian puluh tahun, ternyata, terjadilah kejadian 11 September 2001. Dan dalam jarak 20 tahun, sebelum kejadian, beliau bermimpi tentang Amin Rais, bahwa Pimpinan Muhammaddiyah pusat bernamanya Ikrāman Maḥbūb, 5 tahun kemudian beliau bermimpi lagi bahwa yang disebut Ikrāman Maḥbūb adalah Amin Rais, yang waktu itu masih bersekolah di Luar Negeri. Ternyata beberapa tahun kemudian Amin Rais menjadi Pimpinan Muhammadiyah Pusat, dan kemudian menjadi Ketua MPR. Inilah Jabatan yang termulia di negeri ini (Ikrāman Maḥbūb = yang mulia lagi dicintai) ternyata mimpinya itu, sangat tepat kejadiannya beliau telah diberitahukan lebih dahulu lewat mimpi-mimpinya.

Habīb Hāsjim diangkat langsung sebagai murid oleh Syekh ‘Abdul Qādir Al-Jailāni r.a. pada tahun 1967 di Desa Waras-waras, Seram Timur, Maluku, Indonesia. Kehadiran Tuan Syekh ‘Abdul Qādir Al-Jailāni r.a sangat mengagumkan sekali, dengan pengawalan yang cukup ketat dari kalangan bangsa Ruhani dan bangsa Jin Islam yang ta’at pada perintah Allah s.w.t. Kebenaran kehadirannya, sudah barang tentu, dengan segala tanda-tanda yang dapat dipercaya tentang kebenaran kehadiran tersebut. Dari sinilah, Habīb Hāsjim dibimbing secara terus menerus selama 26 tahun (1967– 1993). Semua perintah Syekh ‘Abdul Qādir Al-Jailāni r.a, yang datang secara ruhani, dicatat dengan terperinci. Begitu juga, segala isi pembicaraan para Ruhani dengannya, tidak luput ditulisnya. Hal ini bertujuan, untuk kemudian hari, dijadikan pelajaran bagi anak-anaknya serta orang lain tentunya.

2. Habīb Muhammad bin ‘Abdullāh bin ‘Umar Al-Idrūs

Seorang Waliyullāh yang sangat besar kemuliaannya di masa kehidupannya. Habīb Muhammad ialah seorang pejuang kemerdekaan dalam menentang kaum penjajah, Belanda. Belanda mengasingkan Habīb Muhammad dari kota Semarang ke pulau Kupang, di sanalah Habīb Muhammad menikah. Dan saat istrinya sedang hamil, Habīb Muhammad diasingkan lagi ke Ambon. Habīb Muhammad menamakan anaknya dalam kandungan istrinya yang ditinggalkan di Timor, Kupang dengan nama ‘Abd-ur-Rahmān. Setelah Habīb Muhammad tiba di kota Ambon, kampung Batu Merah, maka beliau mendapatkan sebuah gundukan tanah di bawah tempat tidurnya. Beliau pun mengatakan, inilah anaknya yang bernama Habīb ‘Abd-ur-Rahmān telah lahir di Timor, Kupang, dan Allāh s.w.t. telah mengembalikannya langsung ke haribaan-Nya.

Kemudian, gundukan tanah tersebut dipindahkan ke atas bukit. Menjadilah ia suatu makam, yang pada masa itu mengeluarkan cahaya terang pada setiap malam Jum’atnya, dan akhirnya oleh masyarakat dikenal dengan nama Karamat Tanjung Batu Merah Ambon. Habīb Muhammad setiap harinya menyusun perlawanan terhadap Penjajah Belanda di Kota ambon, maka beliau diasingkan ke Solo, Jawa Tengah. Di sana beliau kembali kepada keharibaan-Nya, Allāh s.w.t. Saat dikuburkan dan setelah ditutup tanahnya, dan saat hendak disiramkan air di atas kuburnya, ternyata kuburannya telah lenyap tanpa meninggalkan bekas sedikitpun, sementara tempat bekas galian itu menjadi seperti sebelum digalikan kuburannya. Semoga Allāh senantiasa memberi rahmat yang besar kepada beliau khususnya. Amin yā rabbal ‘Ālamīn.

3. Tuan Syekh Musthafā bin Syekh Muhyiddīn

Berasal dari bangsa Ruhāni yang sangat besar kekuasaannya. Syekh Musthafā telah datang kepada kedua orang tua Habīb Raīs, tahun 1967, di bawah perintah Allah s.w.t. serta di bawah pengawasan Syekh ‘Abdul Qādir Al-Jailāni r.a beserta pendamping-pendampingnya yang lain, di antaranya Tuan Syekh ‘Ali, Tuan Syekh Shaleh dan sebagainya.

Mereka semua datang untuk membimbing kedua orang tua Habib Rais serta semua anak-anaknya, termasuk Habīb Raīs sendiri untuk tetap selalu berada dalam kebaikan Allāh s.w.t. dan barakat para wali-Nya. Jadi, sejak Habīb Raīs berusia 6 tahun sudah berada dalam suasana keakraban dengan para wali Allāh dan para ruhani-ruhaniNya. Dan tahun 1992, Tuan Syekh Musthafā serta para pendampingnya mengatakan bahwa misi mereka dari Allāh s.w.t. untuk pertama ini telah selesai. Maka, kami nanti akan kembali semuanya kepada Habib Rais. Kami datang dari tahun 1967 dan sekarang akan kami kembali kepada Habīb Rais. Ini semua adalah karena Barakat yang senantiasa mengalir dari kemuliaannya Habib Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Umar Al-Idrūs karamat Tanjung Batu Merah Ambon. Secara kebetulan, saat kalimat perpisahan dari para Ruhani ini kepada orang tua Habīb Raīs (Habīb Hāsjim), Habīb Raīs berada bersama kedua orang tuanya (mudah-mudahan Allāh s.w.t. mengembalikan bangsa Ruhani itu kepada Habib Rais dengan misi yang lebih baik dan berguna kepada kita semuanya khususnya, dan kepada kemanusiaan pada umumnya. Amin yā rabbal ‘Ālamīn).

4. Tuan Syekh Yūsuf Tuanta Salamaka

Pimpinan para wali di wilayah Sulawesi Selatan, yang dikenal dengan istilah Wali Pitu (wali tujuh). Beliau telah hadir dalam suatu “Nūr” yang sangat cemerlang sekali, dan beliau mengatakan, kehadirannya ini di bawah perintah Allāh s.w.t. dan di bawah pengawasan Tuan Syekh ‘Abdul Qādir Al-Jailāni r.a . Hal khusus yang diajarkannya yaitu mengenai “ Bagaimanakah seseorang bisa dapat berhubungan dan meminta langsung kepada Allāh s.w.t.”. Selama ini mayoritas orang menyangka, mereka telah dapat berhubungan dan meminta langsung kepada Allāh s.w.t. dengan hanya mengatakan “Ya Allāh saya begini dan begitu …”, mereka menyangka dengan hanya mulutnya menyebut kata Allāh s.w.t., maka itu berarti sudah meminta langsung kepada Allāh s.w.t. Semua ini harus dengan pengetahuan dan keilmuan serta i’tiqād yang kuat sebagaimana para Wali-Nya telah diperbuat. Maka beliaupun dengan izin Allāh s.w.t. dan dengan pengawasan yang ketat dari Tuan Syekh ‘Abdul Qādir Al-Jailāni r.a., beliau memberikan pengajaran tersebut kepada Habīb Raīs, selama 9 bulan. Habīb Raīs mengikuti—dari hari ke hari—pengajaran tersebut, dan dengan kecerdikannya maka beliau dapat menangkap semua pengajaran tersebut.

5. Tuan Imam Lapeo r.a.

Dengan izin Allāh s.w.t. dan di bawah pengawasan Tuan Syekh Yūsuf Tuanta Salamaka r.a., beliau mengajarkan kepada Habīb Raīs beberapa Ilmu Hikmah; penggunaannya menyangkut HURUF atau dengan kata lain ilmu tersebut dinamakan Asrār-ul-Hurūf, dan beliau bersama Tuan Syekh Yūsuf Tuanta Salamak r.a. berjanji kepada Habīb Raīs, bahwa mereka akan kembali kepada Habīb Raīs saat umurnya sudah bertambah (saat itu Habīb Raīs berumur 27 tahun). Mungkin maksudnya kalau sudah lebih matang dalam keilmuan tentang ketuhanan.

6. Habīb Muhammad Al-Gadri

Beliau dikenal dengan sebutan Habīb Marunda. Kalau ada orang yang menanyakan namanya, maka dengan cepat beliau menjawab “nama saya habib gila”. Habīb Marunda membangun Padepokan di Marunda. Majelisnya diadakan setiap malam Jum’at; Dzikir yang dibacakan mulai jam 00.00 tengah malam sampai dengan selesai lebih kurang 3 jam 03.00. Habīb Marunda telah memantapkan keyakinan Habīb Raīs tentang ilmu dan keilmuan yang ada pada diri Habīb Raīs itu sendiri, dengan diangkatnya Habīb Raīs menjadi anaknya (dibai’atnya pada tahun 1993). Habīb Marunda, seorang yang sangat teguh dalam prinsipnya, kalimat-kalimatnya tidak pernah memperlihatkan ada kekhawatiran pada hati beliau-beliau. Bersama Habīb Marunda, Habīb Raīs telah dibawa ke berbagai daerah untuk mengunjungi tempat-tempat yang baik dan mulia. Dan bersama beliau pula, Habib Rais mendapat banyak pengalaman batin yang sangat besar dan baik. Mudah-mudahan Allāh s.w.t. dan para wali-Nya memberkati beliau selalu. Amin ya Rabb-al-‘Alamīn.

7. Guru-guru dari Jawa Timur

Mereka mengajarkan kepada Habīb Raīs tentang hal pandangan batin ataupun tentang penampakan makhluk halus yang selama ini menjadi ghaib bagi kebanyakan orang awam. Dari ilmu yang diajarkan itu, banyak hal yang ghaib dapat dilihat secara kasat mata.

8. Guru-guru dari Jawa Tengah

Mereka mengajarkan kepada Habīb Raīs, ilmu yang telah didudukkan lebih dahulu dasarnya oleh Abahnya sendiri, Habīb Hāsjim Bin Thāhir, yaitu tentang Ilmu Tiga . Barangsiapa tidak menguasainya secara benar dan mendalam sampai tuntas pendapatannya, maka ia akan hidup sia-sia di dunia maupun di akhirat kelak, yaitu: 1). Ilmu Takbīrat-ul-Iḥrām (Ilmu Shalat) 2). Ilmu Nisā’i (Ilmu Perkawinan) 3). Ilmu Sakarāt-ul-Maut (Ilmu untuk kembali hidup setelah mati).

9. Hazur Maharaj Charan Sing Ji

Seorang guru besar dari Beas India. Maharaj mengajarkan suatu metode untuk mendengar suara di dalam diri setiap orang. Pengajarannya lebih menekan pada Dzikir Lima Nama Suci (Kontempelasi). Habīb Raīs mengambil inisiasi kepadanya dalam rangka mendapatkan sebuah perbandingan Agama atau Keilmuan dari para Guru yang dipandang masyhur oleh minimal murid-muridnya, apalagi oleh manusia di berbagai negara di dunia ini.

Pengambilan guru tersebut oleh Habīb Raīs pada tahun 1983, dan setelah 2 bulan mengikuti ceramahnya, Habīb Raīs diterima untuk diinisiasi pada tahun 1983 itu juga. (Ini adalah sesuatu di luar kebiasaan yang terjadi di kalangan majelis ini. Karena seseorang yang dapat diterima untuk diinisiasi oleh Guru yang dipanggil dengan sebutan Sat Guru itu, adalah minimal yang sudah mengikuti semua disiplin dalam majelis ini selama 2 tahun. Disiplin itu di antaranya, harus senantiasa mengikuti ceramahnya yang disebut Satsang, harus vegetarian (makan yang tidak bernyawa) selama 2 tahun dan minimal sudah membaca sekian judul buku-bukunya, barulah boleh mengajukan Surat Permohonan untuk diinisiasi kepada Sat Guru. Perkara diterima atau tidak diterima semuanya tergantung dari penilaian Sat Guru itu sendiri).

Tapi untuk Habīb Raīs yang baru 2 bulan mengikuti Ceramah/Satsangnya, telah dapat diterima untuk diinisiasi. Bahkan dari sekian ribu orang yang mengajukan permohonan untuk diinisasi saat itu, ternyata yang diterima saat itu, adalah hanya 33 orang, dan bahkan nama Habib Raislah yang tertulis pada urutan yang pertama (teratas). Pada keilmuan di majelis ini, setiap orang yang diinisiasi menjadi Murid (atsangi), maka ia diberi Lima Nama Suci yang harus diulang-ulang (Dzikirkan) dalam setiap harinya dalam Simran (kontempelasi) dan Bayan (Mendengarkan suara).

10. Syekh Harūn al-Rasyīd (Syekh Faye)

Beliau adalah seorang Mursyid Tharīqat Murīdiyyah–Musthafāwiyyah, dan beberapa tharīqat lainnya. Syekh Faye sangat masyhur di daerah Afrika. Syekh Faye mempunyai banyak murid di Senegal, asal daerah kelahirannya, serta di Amerika dan sebagainya. Habīb Raīs berbaiat kepada Syekh Faye pada awal tahun 2003. Atas bimbingan Syekh Faye, Habib Rais telah melakukan khalwat selama 5 hari di gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, dan mendapatkan Natijahnya dengan sangat baik. Kemudian Syekh Faye melanjutkan beberapa pelajaran yang sangat besar nilainya kepada Habīb Raīs. Mudah-mudahan Allāh s.w.t. senantiasa memberikan perlindungan dan barakat selalu kepada beliau dan keluarga serta semua pengikutnya di dunia sampai yaum-il-ma’syar. Amin ya rabb-al-‘alamīn.

Album Mursyid

Galeri Potret Habib Rais Ridjaly

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share via
Copy link