Syaikh Husain asy-Syadzili ad-Darqawi

Syaikh Husain asy-Syadzili ad-Darqawi al-Chisyti
Lahir Parit Buntar 23/05/1960 (Umur 62)
Tempat Tinggal Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bogor, Kecamatan Parung, Desa Pamegarsari, Kampung Tajur
Zawiyah
  1. Zawiyah Majlis Dzikir Hati Senang
Pusat Informasi Mobile: XL +62 877-7390-2279, INDOSAT +62 856-9446-1154, TELKOMSEL +62 813-1642-6495
Email: [email protected]
Alamat: Jl. Zawiyah, No. 121, Rumah Botol Majlis Dzikir Hati Senang, RT/RW 06/04, Kp. Tajur, Desa Pamegarsari, Parung, Jawa Barat. 16330.
Tautan Sosial

Syaikh Husain asy-Syadzili lahir di Parit Buntar, Perak Malaysia pada 23 Mei 1960. Beliau memeluk agama Islam pada usia 17 tahun setelah melalui berbagai pertanyaan-pertanyaan teologis yang menggelisahkan jiwanya. Sebelum memeluk agama Islam, beliau pernah mempelajari berbagai kitab agama yang dikenalnya saat itu, diantaranya Taurat, Zabur dan Injil. Sementara ketertarikannya dengan agama Islam telah dimulai sejak kecil, saat beliau bergaul dengan orang-orang Islam di kampungnya. Beliau tertarik dengan akhlak, keramah tamahan, dan cara mereka memperlakukan dirinya yang berasal dari etnis dan agama yang berbeda dengan mereka. Beliau juga tertarik dengan beberapa ritual Islam seperti puasa di bulan Ramadhan. Syaikh Husain mengingat bahwa ia sudah melaksanakan ibadah puasa sejak usia 10 tahun. Tapi beliau baru benar-benar mempelajari al-Qur’an dengan baik dengan ustadz Bambang, seorang pengajar al-Qur’an yang ikhlas dari Indonesia. Syaikh Husain menceritakan ustadz Bambang memberinya sebuah al-Qur’an yang terus dibacanya sampai beberapa tahun kemudian. Setiap membaca al-Qur’an, beliau sangat terpukau dengan keindahan bahasa dan kedalaman maknanya sehingga tak ingin lagi membaca kitab-kitab lain.

Saat itu Syaikh Husain belum menjadi muslim, tapi atas pilihan sendiri beliau selalu menghadiri kelas agama Islam yang diadakan sekolahnya. Setiap menghadiri kelas, ustadz Bambang tertarik dengan sang pelajar non Islam yang menjawab dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya melebihi pelajar muslim sendiri di kelas tersebut. Ustadz Bambang kemudian mengajar Syaikh Husain secara pribadi di kantornya. Hal itu terjadi selama 1 tahun, sampai suatu kali ustadz Bambang menanyakan apa yang dirasakan Syaikh Husain. Beliau lalu menceritakan pengalaman batinnya selama ini dan pemahamannya tentang monotheisme.

“Anda sebenarnya sudah Islam, meski belum bersyahadat, “komentar ujar ustadz Bambang,” Sekarang anda hanya perlu bersyahadat.”

“Tapi saya belum siap untuk melaksanakan shalat,” kata Syaikh Husain.

“Tidak apa-apa kalau belum siap. Terus saja belajar tentang Islam, nanti engkau akan mau sholat dengan sendirinya.”

Dan selama setahun beliau tekun mempelajari Islam, Syaikh Husain memutuskan untuk mendirikan shalat dan hal itu terus dilakukannya sampai sekarang.

Atas bantuan ustadz Bambang, Syaikh Husain kemudian mendapat bea siswa untuk belajar tentang Islam lebih lanjut di sebuah madrasah untuk mualaf di Petaling Jaya, dekat Kuala Lumpur yang didirikan oleh Tengku Abdurrahman. Beliau menceritakan diantara semua mata pelajaran yang diajarkan di sana, beliau paling tertarik dengan bahasa Arab, karena dengan menguasai bahasa Arab seseorang bisa mendalami agama Islam dari sumber aslinya. Ketekunannya dalam belajar membuat Syaikh Husain disukai oleh guru-guru yang ada di madrasah tersebut.

Perkenalannya dengan kelompok sufi terjadi ketika seorang temannya mengajak beliau menghadiri sebuah majlis zikir yang diadakan oleh muqadim Syaikh ‘Abd-ul-Qadir as-Sufi di Kuala Lumpur. Syaikh Husain yang saat itu sempat terpengaruh ajaran wahabi, menolak ajakan tersebut. Tapi sang teman yang mendatangi beliau setiap hari libur, dengan sabar menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an dan hadist yang menjelaskan tentang ajaran sufi. Perdebatan antara mereka terjadi sampai 1 tahun, sampai Syaikh Husain memutuskan tidak ada salahnya untuk mencoba. Beliau menceritakan sang teman begitu gembira dengan keputusan tersebut sehingga ia menggegam erat tangan Syaikh Husain dan membawa beliau menghadiri majlis zikir tersebut. Kebetulan pada majlis zikir malam itu hadir 2 muqadim Syaikh ‘Abd-ul-Qadir as-Sufi. Syaikh Husain menceritakan pertama kali menghadiri majlis zikir tersebut, Allah membukakan mata hati beliau untuk memahami Kitab Minhajul Abidin karya Imam al-Ghazali. Selama di madrasah beliau mempelajari kitab tersebut tapi hanya menghafalkan saja tanpa memahaminya. Beliau mengatakan itulah pentingnya ketekunan untuk mempelajari sebuah kitab, sehingga ketika saatnya Allah membukakan mata hati kita memahami kitab tersebut kita sudah punya persediaan untuk itu. Dari pengalaman ini Syaikh Husain menyimpulkan tak ada salahnya bagi anak-anak untuk menghafal al-Qur’an dan Hadist pada usia dini meski mereka belum benar-benar memahami maknanya. Karena pada saatnya nanti Allah membukakan mata hati mereka untuk memahami al-Qur’an, mereka sudah punya persediaan (karena sudah menghafalnya).

Selama 6 bulan menghadiri majlis zikir tersebut, Syaikh Husain mengalami beberapa pengalaman ruhani yang menakjubkan. Diantaranya adalah beliau bermimpi 2 kali bertemu orang sholeh yang sama yang mendorong beliau untuk bepergian. Orang sholeh itu mengatakan kemanapun Syaikh Husain pergi, beliau akan menemui ketiadaan. Mimpi itu sempat menimbulkan kebingungan di hatinya tapi Syaikh Husain memutuskan menunggu isyarat dari Allah tentang makna mimpi tersebut. Dan isyarat itu datang ketika seorang alumni madrasah menawarkan beliau mendapatkan bea siswa untuk belajar di sebuah Universitas Islam di Karachi, Pakistan. Orang tersebut membantu mengurus segala sesuatu tentang bea siswa tersebut. Melihat prestasi Syaikh Husain selama belajar di madrasah, hanya dalam waktu 1 minggu permohonan diajukan, universitas tersebut langsung menerima lamaran beliau untuk menjadi mahasiswa di sana.

Menuntut Ilmu di Pakistan

Setibanya di Karachi Pakistan, Syaikh Husain ternyata mengalami sedikit kendala dalam pengurusan visa untuk belajar di universitas tersebut. Karena tidak mudah untuk balik lagi ke Malaysia menyelesaikan urusan tersebut, Syaikh Husain kemudian memutuskan untuk mengunjungi Syaikh Zamzami di Pak Pattan di utara Pakistan, yang alamatnya beliau dapat dari seorang muqadim di Kuala Lumpur dulu. Hal yang dimaksudkan untuk kunjungan sementara, ternyata mengubah jalan pendidikan yang akan ditempuh Syaikh Husain di kemudian hari.

Setibanya di Pak Pattan, ternyata Syaikh Zamzami tidak ada di Zawiyahnya. Syaikh tersebut memang sering melakukan perjalanan ke Marakesh dan berbagai tempat lain di dunia mengunjungi para Syaikh sufi untuk memperdalam ilmunya. Biasanya beliau 2 minggu melakukan perjalanan dan 2 minggu berada di Zawiyahnya. Syaikh Zamzami ditahbiskan dalam tarikat Syadzili Darqawi tapi beliau juga mendapat izin berkah dari tarikat Chisyty, Qadiri, Rufa’i, Qolandari dan lain-lain. Beliau juga pernah berguru pada Syaikh ‘Abd-ul-Qadir as-Sufi.

Syaikh Husain memutuskan tinggal sementara di Zawiyah sambil menunggu Syaikh Zamzami kembali. Sambutan yang baik dari murid-murid di sana, membuat beliau nyaman. Dalam masa penantian itu, beliau mengisi waktu dengan berzikir, beribadah dan berkhidmat di Zawiyah tersebut. Syaikh Husain juga sering berziarah ke makam Baba Farid Gansyakar yang ternyata tidak jauh dari sana. Kebetulan setiap malam Jum’at di makam tersebut ada pertunjukan group Kawali yang sering membacakan dan menyanyikan syair-syair Jalaludin Rumi.

Saat Syaikh Zamzami kembali, beliau sangat senang dengan kedatangan pemuda Cina dari Malaysia tersebut. Syaikh Zamzami mempersilahkan Syaikh Husain tetap tinggal di zawiyahnya, dan menjadikan beliau jadi imam shalat karena kemampuan bahasa Arabnya yang lebih baik dari murid lain di sana. Saat itu Syaikh Husain baru berusia 19 tahun. Beliau mengatakan yang menonjol dari pengajaran Syaikh Zamzami adalah tentang suluk dan adab-adab sufi. Syaikh Zamzami memang terkenal keras dalam mempraktekkan suluk. Diantaranya, beliau memerintahkan murid-murid untuk mensedekahkan pada faqir miskin semua bahan makanan yang ada di dapur Zawiyah setiap malam tiba. Makanan esok hari adalah tawakal dengan apa yang datang dari Allah. Suluk seperti ini memang cukup berat bagi sebagian murid bahkan bagi keluarga Syaikh Zamzami sendiri, sehingga sebagian dari mereka pergi meninggalkan Zawiyah.

Suatu kali Syaikh Zamzami memerintahkan para murid untuk melakukan perjalanan dari Pak Pattan, Pakistan ke Ajma Syarif, di India. Syaratnya mereka tak boleh membawa bekal apapun dan tidak boleh meminta bantuan pada orang lain. Bagi sebagian orang perintah itu mungkin nampak sangat sulit. Bayangkan, beberapa anak muda harus melakukan perjalanan darat ke negara lain, tanpa penunjuk jalan dan tanpa uang sama sekali di kantong mereka. Namun dalam setiap tahap perjalanan ada saja bantuan tak terduga dari orang-orang yang tak mereka kenal. Dan mereka bisa sampai di Ajma Syarif pada waktu yang telah ditentukan untuk bertemu dengan Syaikh Zamzami yang telah menunggu di sana. Alhamdulillah.

Dalam perjalanan pulang dari perbatasan India ke Pak Pattan, rombongan kehabisan uang. Apa yang harus dilakukan? Mereka tiba-tiba teringat dengan sebuah wirid dari Syaikh Abu Hasan Syadzili yang pernah diberikan oleh Syaikh Zamzami. Sesuai anjuran wirid itu, mereka kemudian mengumpulkan semua uang yang masih tersisa di saku masing-masing dan memberikan uang tersebut pada pengemis pertama yang mereka temui. Sesuai petunjuk wirid tersebut, setelah itu mereka mendatangi sebuah pemakaman dan membacakan surat Yasin untuk orang yang dimakamkan di sana. Mereka kemudian pergi ke Masjid untuk melakukan shalat Jum’at berjama’ah. Syaikh Husain menceritakan. Ketika ia baru saja selesai mengucapkan salam terakhir, seseorang yang tak dikenal menggamit bahunya dari belakang, dan memberinya segepok uang yang jumlahnya 7000 kali lipat dari uang yang mereka sedekahkan. Pemimpin rombongan meminta Syaikh Husain mengucapkan terima kasih pada orang tersebut (karena uang diberikan padanya), tapi saat beliau menoleh kembali ke belakang, orang tersebut sudah tidak ada. Syaikh Husain mencari ke sekitar Masjid, karena kejadian itu baru terjadi beberapa menit lalu, tapi orang dermawan tersebut tetap tidak ditemukan. Syaikh Husain mengatakan suluk-suluk seperti ini banyak membukakan matanya terhadap keterlibatan Sang Maha Kuasa dalam setiap kejadian yang dialaminya. Dan membuatnya semakin yakin bahwa Allah selalu mengurus keperluan hamba-hambaNya.

Selama di Zawiyah, Syaikh Husain juga mengisi waktunya untuk menelaah kitab-kitab yang ada di perpustakaan Syaikh Zamzami diantaranya Risalah Qusyairiyah, al-Luma’ dan Mastnawi. Syaikh Husain memang memiliki cara sendiri untuk menelaah kitab. Kebiasaan itu telah dilakukannya sejak jadi pelajar di Malaysia. Beliau sering mendatangi guru di luar jam-jam pelajaran untuk memperdalam suatu materi tertentu. Kadang beliau mencari Tok Guru tertentu untuk mempelajari kitab-kitab yang tak diajarkan di madrasah. Kitab Ajurumiyyah, Nazham Imrithi, Alfiyyah dan beberapa kitab-kitab lainnya beliau pelajari secara pribadi pada Tok Guru tersebut. Kebetulan waktu itu Syaikh Husain sempat aktif di ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) sehingga memudahkan beliau berkenalan dengan banyak guru Islam di sana. Para guru itu tentu saja senang dengan ketekunan dan kecerdasan pemuda Cina tersebut meski imbalan dari pengajaran tersebut hanyalah khidmat Syaikh Husain pada mereka.

Syaikh Zamzami sendiri tak mengajarkan kitab tertentu pada murid-muridnya. Kadang beliau membacakan Matsnawi pada waktu-waktu tertentu jika beliau berada di Zawiyah. Para murid biasanya melaksanakan wirid-wirid yang diajarkan dalam tarikat Darqawi, seperti shalat tahajjud bersama, membaca Hizb-ul-Bahr, Shalawat Masyisyiyyah, dzikir Ism-ul-Mufrad atau menyanyikan syair-syair yang diciptakan oleh guru-guru mereka terdahulu seperti Syaikh Abu Madyan, Syaikh al-Alawi, Syaikh Muhammad Ibn al-Habib dan lain-lain. Syair-syair itu banyak mengandung pengajaran tauhid, akhlak dan kecintaan pada Allah s.w.t. Setelah menyanyikan syair tersebut, para Syaikh biasanya menjelaskan makna yang terkandung di dalamnya sesuai pengajaran yang dibutuhkan murid.

Selama di Pakistan, Syaikh Husain juga berkesempatan belajar dari beberapa Syaikh lain di sana. Diantaranya Syaikh Allah Bakhsy, Syaikh Sayyidullah dan Syaikh Ikram Husain. Dari mereka, Syaikh Husain belajar tentang kondisi thariqah-thariqah Sufi di Pakistan. Kebanyakan menjadikan thariqah sebagai dinasti-dinasti keluarga yang semakin lama semakin menjauh dari ajaran Islam sejati. Gelar Syaikh lebih diberikan pada keturunan Syaikh sebelumnya tanpa memperhatikan kualifikasi keilmuan dan ruhani mereka. Akibatnya yang bertahan pada tarikat itu adalah tradisi dan amalan-amalan Sufi yang dipraktekkan turun temurun tapi tanpa makna dan miskin pengalaman ruhani, Syaikh Ikram Husain berpesan pada Syaikh Husain muda,” Dari 10 Syaikh Sufi yang ada, hanya 1 yang benar. Karena itu tugas kita adalah mengembalikan thariqah untuk berpegang teguh pada ajaran Islam yang benar, yaitu al-Qur’an dan Sunnah Nabi s.a.w.

Berguru pada Syaikh Fattah al-Daood

Sesuai niat awalnya meninggalkan Malaysia dulu, Syaikh Husain masih memendam keinginan untuk bertemu langsung dengan Syaikh ‘Abd-ul-Qadir as-Sufi, yang saat itu bermukim di London. Beliau banyak mendengar dari muqaddim di Malaysia tentang keilmuan dan ketinggian ruhani Syaikh ‘Abd-ul-Qadir as-Sufi yang pernah belajar langsung dari Syaikh Muhammad Ibn al-Habib tersebut. Seorang teman membantunya untuk menemui Syaikh ‘Abd-ul-Qadir as-Sufi di London, tapi keinginan itu tidak terlaksana dengan baik. Syaikh Husain akhirnya memutuskan untuk berpasrah diri pada Allah tentang hal tersebut.

Suatu hari beliau mendengar tentang kedatangan Syaikh Fadlullah al-Haeri di Bahawal Pour, yang berjarak 3-4 jam perjalanan dari Pak Pattan. Saat itu Syaikh Husain tidak punya uang untuk melakukan perjalanan ke sana, lalu beliau memohon pertolongan Allah. Tak lama kemudian saat membuka salah satu buku catatan lamanya, beliau menemukan sedikit sisa uang (yang sudah tak diingatnya) yang dibawanya dari Malaysia dulu. Uang itu cukup untuk membawanya ke Bahawal Pour.

Di Zawiyah Syaikh Fadlullah di Bahawal Pour sudah ramai orang yang hadir, dan Syaikh sedang memberikan tausyiah pada mereka. Saat Syaikh Husain masuk dan memberikan salam, Syaikh Fadlullah menghentikan tausyiah dan menyapanya.

“Selamat datang cahaya Syaikh Zamzami!”

Sapaan Syaikh Fadlullah itu sangat menggetarkan Syaikh Husain. Mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, dan Syaikh Fadlullah pun tidak mengenalnya. Apakah seorang murid bisa dikenali dari cahaya gurunya? Kejadian itu menimbulkan kesan mendalam di hati Syaikh Husain seumur hidupnya.

Pertemuan dengan Syaikh Fadlullah tidak berlangsung lama karena Syaikh tersebut harus melakukan perjalanan ke Sri Langka. Syaikh Fadlullah memang memiliki banyak Zawiyah di berbagai tempat di dunia dan beliau selalu mengunjungi Zawiyahnya secara bergiliran. Tapi pertemuan singkat itu memiliki kesan tak terlupakan bagi Syaikh Husain.

Beberapa bulan kemudian, ketika mendengar kabar Syaikh Fadlullah dan beberapa Syaikh lain akan mengunjungi Zawiyah Syaikh Zamzami, beliau sangat menantikan kedatangan tersebut.

“Apakah Syaikh Fadlullah al-Haeri ini yang akan jadi mursyid saya?”, Syaikh Husain bertanya-tanya dalam hati.

Dan semalam sebelum kedatangan mereka, Syaikh Husain sangat gelisah sehingga tak bisa tidur. Diantara tidur dan jaganya, beliau melihat kemunculan Syaikh Fadlullah di hadapannya. Syaikh Fadlullah kemudian memegang tangan Syaikh Husain dan membawanya pada seseorang yang sedang memainkan musik bersama kelompoknya. Syaikh Husain tidak mengenal orang tersebut, tapi yang diingatnya wajah orang tersebut sangat bercahaya.

Esok harinya ketika para masyayikh itu datang, seseorang dari mereka tiba-tiba mendekati Syaikh Husain dan menyapa beliau dengan bahasa Cina yang fasih.

“Ni hao ma?.”

Syaikh Husain terkesiap. Bukan hanya karena kemampuan orang tersebut menggunakan bahasa ibunya dengan baik, tapi wajah orang yang menyapanya terasa pernah dikenalnya. Setelah terdiam sesaat, Syaikh Husain baru ingat bahwa orang tersebut adalah pemimpin pertunjukan musik yang dilihatnya dalam mimpi semalam. Dan orang itu adalah Syaikh Fattah Abdullah al-Daood.

Selama beberapa hari para masyayikh itu berada di Zawiyah Syaikh Zamzami, Syaikh Husain muda menunjukkan khidmatnya dan meladeni segala hal yang dibutuhkan para tamu dengan baik. Syaikh Fadlullah yang terkesan dengan ketekunan dan kesantunan pemuda Cina itu, lalu mendekatinya dan menanyakan apakah mau menjadi muridnya. Syaikh Husain menundukkan kepala dan dengan lembut menjawab bahwa ia sudah ba’iat dengan Syaikh Fattah pada hari sebelumnya.

Syaikh Fadlullah tersenyum mendengar jawaban tersebut.

“Anda memang memerlukan seseorang seperti Syaikh Fattah sebagai mursyid.”

Begitulah adab para masyayikh. Mereka faham bahwa urusan menjadi mursyid atau murid adalah rahasia Allah. Bukan kehebatan atau kesempurnaan seorang mursyid yang menentukan berhasil atau tidaknya perjalanan ruhani seorang murid. Bisa jadi mursyidmu hanya seseorang yang terlihat sederhana, tapi melaluinya Allah menyingkapkan padamu hijab-hijab penghambaan dan membukakan padamu rahasia-rahasia alam semesta. Semua itu adalah rahasiaNya yang sudah ditetapkan di zaman azali.

Saat itu Syaikh Fattah belum sampai setahun ditahbiskan sebagai guru oleh Syaikh Fadlullah al-Haeri. Sesuai tradisi tarikat sufi, Syaikh Fadlullah memberikan sejumlah murid pada Syaikh Fattah sebagai bekal awal membuka Zawiyahnya sendiri. Dan Syaikh Husain muda adalah orang pertama yang diba’iat sebagai murid oleh Syaikh Fattah di luar kelompok murid-murid di atas.

Hijrah ke Amerika Serikat

Setelah mohon restu pada Syaikh Zamzami, enam bulan kemudian Syaikh Husain ikut hijrah ke Amerika Serikat untuk tinggal bersama Syaikh Fattah. Itu terjadi pada tahun 1983. Waktu itu Syaikh Fattah tinggal di Zawiyah Syaikh Fadlullah di Blanco, Texas. Bersama beliau tinggal sejumlah murid (fuqara) yang sebagian besar mereka adalah mualaf-mualaf berkebangsaan Amerika.

Tinggal di barat dengan orang-orang yang memiliki perilaku dan budaya yang sangat berbeda dengan dirinya, memang membuat Syaikh Husain mengalami berbagai kendala. Kendala awal adalah soal bahasa. Orang Amerika biasa menggunakan kata-kata yang sering terdengar sangat kasar bagi orang asing seperti beliau. Syaikh Fattah yang memahami kondisi muridnya mengusahakan Syaikh Husain untuk tidak banyak bergaul dengan fuqara Amerika tersebut. Salah satu caranya adalah dengan memberikan tugas mengajar bagi beliau. Syaikh Husain menceritakan belum lama berada di sana, ia langsung ditugaskan memberi kursus kilat intensif tentang kitab Ajurumiyyah. Selama 2 minggu, dari pagi sampai malam ia mengajar mereka. Alhamdulillah, selesai kursus beberapa orang di antara mereka sudah bisa membaca atau menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab.

Selama tinggal di Blanco, Syaikh Fattah dan para murid di sana hidup dari bantuan biaya sepenuhnya dari Syaikh Fadlullah yang memang dikenal kaya raya. Namun kemudahan itu membuat sebagian besar fuqara menjadi pemalas dan berperilaku buruk. Syaikh Fadlullah yang jengkel melihat keadaan tersebut, kemudian mempersilahkan mereka hidup mandiri di luar sana Namun khusus untuk Syaikh Fattah dan murid-muridnya, beliau tetap memberikan bantuan biaya untuk beberapa tahun ke depan.. Syaikh Fattah kemudian mengontrak sebuah tempat untuk menjadi Zawiyahnya di Austin, yang masih termasuk wilayah Texas.

Syaikh Husain mengatakan persoalan utama yang sering dihadapi Syaikh Fattah dengan fuqara-fuqara Amerika tersebut adalah perilaku mereka yang masih jauh dari nilai-nilai Islam. Rata-rata mereka tumbuh dan besar dalam tradisi Amerika yang liberal dan pragmatis. Meski sudah bersyahadat, namun membutuhkan waktu yang lama dan usaha yang keras untuk mengubah watak tersebut menjadi sejalan dengan akhlak yang diajarkan Islam. Selain itu, pergaulan yang sangat permisif di luar Zawiyah sangat memberi pengaruh buruk bagi perkembangan pribadi anak-anak para fuqara. Karena itu Syaikh Fattah memerintahkan Syaikh Husain dan beberapa fuqara lain untuk mengajar al-Qur’an, hadist, akhlak, dan bahasa Arab untuk anak-anak tersebut. Namun dari semua pengajar, hanya Syaikh Husain yang tetap bertahan melaksanakan tugas yang diberikan Syaikh Fattah.

Syaikh Husain menyebut periode bersama Syaikh Fattah di Amerika sebagai periode membumi. Keadaan itu berbeda dengan kondisinya bersama Syaikh Zamzami di Pakistan yang beliau sebut sebagai periode romantis. Di Pakistan beliau banyak melakukan wirid dan suluk yang sering membuat beliau tenggelam dalam kenikmatan lautan ruhani yang maha indah. Sementara di Amerika, selain diberi tugas mengajar, Syaikh Fattah mendidik beliau untuk terlibat langsung untuk mengatasi problema-problema yang terjadi di antara fuqara di sana.

Syaikh Fattah sering mengutus Syaikh Husain untuk menyelesaikan pertikaian yang terjadi antar kelompok. Di Amerika, orang-orang yang datang ke Zawiyah Syaikh Fattah silih berganti. Niat mereka berbeda-beda. Ada yang memang benar-benar tertarik untuk menjadi sufi, ada yang datang untuk mencari pasangan, dan ada yang hadir di sana hanya sekedar untuk mendapat makanan. Karena itu, tidak mengherankan perilaku mereka banyak yang aneh-aneh. Syaikh Husain menceritakan pernah ia menenggarai 2 perempuan Amerika yang sedang baku tembak. Karena pertengkaran mereka tidak bisa dihentikan, beliau berdiri di tengah-tengah acungan senapan yang siap diledakkan. Melihat keberanian Syaikh Husain, kedua perempuan itu akhirnya meletakkan senjata masing-masing.

Syaikh Husain mengatakan bahwa tantangan lain yang dihadapi bersama Syaikh Fattah adalah kebiasaan beliau untuk berpindah-pindah tempat. Selama 18 tahun ikut Syaikh Fattah di Amerika, mereka sudah pernah tinggal di beberapa negara bagian seperti Texas, California, Washington State, Taos New Mexico dan Kepulauan Dominica. Setiap pindah itu mereka selalu membawa rombongan besar fuqara dan keluarganya masing-masing. Karena perjalanan yang cukup jauh, banyak harta benda yang tak bisa dibawa. Belum lagi adaptasi dengan lingkungan baru yang jauh berbeda dari tempat sebelumnya. Pernah Syaikh Fattah memilih tinggal di tengah hutan di Golden Dale Washington State. Selama di Taos mereka bahkan bisa pindah dua kali setahun. Salah satunya mereka pernah tinggal di Questa (masih di sekitar Taos) di kaki pegunungan yang penuh salju. Di tempat-tempat ekstrem seperti itu sering mereka hidup hanya dari hasil alam dan berburu binatang yang ada di hutan.

Dalam setiap perpindahan itu, biasanya ada saja keluarga-keluarga yang memutuskan untuk tidak ikut. Syaikh Fattah memang menjadikan cara hidup seperti itu sebagai sejenis suluk bagi fuqara untuk melatih mereka hidup zuhud tidak tergantung pada harta benda dan belajar yakin pada Allah pada setiap tahap kehidupan mereka. Dan memang pada setiap perjalanan ada saja bantuan dari Allah. Pernah saat tinggal di Golden Dale Washington State, mereka harus pindah karena kondisi tempat itu sudah tidak kondusif lagi untuk ditempati. Seseorang menawarkan sebidang tanah tidak jauh dari sana, seharga 5000 dolar. Seorang fuqara yang menangani keuangan mengatakan bahwa mereka sudah tidak punya uang lagi di rekening. Syaikh Fattah menyuruh fuqara tersebut mengecek lagi ke bank. Ternyata ada seseorang yang tidak mereka ketahui mentransfer uang sejumlah yang mereka butuhkan, padahal sehari sebelumnya rekening itu kosong. Setelah dua tahun, mereka baru mengetahui uang itu ditransfer oleh teman Syaikh Fadlullah al-Haeri, seorang pedagang karpet berkebangsaan Iran. Beberapa tahun sebelumnya Syaikh Fadlullah pernah memperkenalkan orang tersebut pada Syaikh Fattah, dan memintanya membantu Syaikh Fattah yang saat itu baru ditahbiskan sebagai guru.

Syaikh Husain mengatakan yang juga menonjol dari pengajaran Syaikh Fattah adalah pengendalian semua bentuk hawa nafsu. Beliau yang sejak di Pakistan sering melaksanakan amal-amal yang membawa pada kondisi ‘langitan’, sering diingatkan oleh Syaikh Fattah tentang detail-detail hawa nafsu yang mungkin terselip di dalamnya seperti perasaan bangga karena telah banyak berbuat baik, merasa ruhani telah tinggi dan lain sebagainya. Sang guru juga sering mengecam pelaksanaan amal-amal ibadah yang sekedar menjadi rutinitas tanpa makna. Syaikh Husain mengatakan pada awalnya beliau tidak terbiasa dengan cara gurunya, apalagi Syaikh Fattah terkenal bersifat jalal (tegas, disiplin) dan memiliki gaya bahasa Amerika yang blak-blakan dalam menyampaikan pengajaran. Namun seiring waktu beliau mendapat banyak hikmah dalam pengajaran tersebut, diantaranya beliau lebih memahami makna halus dari hadist-hadist Nabi Muhammad s.a.w. tentang jebakan-jebakan hawa nafsu.

Hal lain yang juga diingat Syaikh Husain dari Syaikh Fattah adalah pengalaman ruhani duduk bersama guru yang susah dilukiskan dengan kata-kata. Selama tinggal di Zawiyyah, beliau memang jarang bergaul dengan para fuqara dan memilih lebih berkhidmat dengan guru. Diantara waktu-waktu itulah beliau sering duduk bersama Syaikh Fattah dalam kondisi hening tanpa percakapan sepatah katapun. Hal itu bisa terjadi selama 3 sampai 4 jam. Saat duduk bersama itu banyak pertanyaan yang muncul di hatinya terjawab tanpa beliau bertanya. Setelah itu pelan-pelan sang guru menarik sang murid ke alam ruhaninya sendiri yang luar biasa. Syaikh Husain mengatakan hal itu bisa terjadi karena saat berada di hadapan guru, sang murid membuang semua pikiran tentang segala sesuatu selain Allah di hatinya. Setelah itu barulah mereka bisa menjadi seperti cangkir kosong yang siap diisi oleh gurunya. Beliau mengatakan pengalaman ruhani duduk bersama gurunya menjadi hal penting untuk membantunya menggapai hubungan ruhani yang lebih dalam dengan Sang Maha Pencipta.

Di antara waktu-waktunya melaksanakan perintah guru, Syaikh Husain tetap melanjutkan minat pribadinya menelaah kitab-kitab. Kebetulan Syaikh Fattah banyak memberikan kitab-kitab berbahasa Arab pada beliau seperti Ihya ‘Ulumuddin, Nahj-ul-Balaghah, al-Luma’, Risalah Qusyairiyyah (Syaikh Zamzami memberikan versi bahasa Inggris), kitab-kitab hadist, fiqh dan lain-lain. Selain itu beliau juga mendapat banyak kitab-kitab klasik berbahasa Arab yang terbilang langka di toko-toko buku seken yang ditemukannya di Amerika.

Syaikh Husain menceritakan selama di Amerika beliau juga bertemu dengan banyak Syaikh lain seperti Syaikh Sidi Jamal, Syaikh Nadhzim Kabbani, Syaikh Hisyam Haqqani dan Syaikh ‘Abd-ul-Qadir as-Sufi sendiri. Saat itu beliau baru beberapa bulan tinggal di Baituddin di Zawiyah Syaikh Fadlullah al-Haeri di Blanco, Texas. Syaikh ‘Abd-ul-Qadir as-Sufi datang ke tempat itu dengan Syaikh Fadlullah. Ketika melihat Syaikh Husain di antara fuqara-fuqara Syaikh Fattah, beliau mengatakan.

“Now, you are in a better company!”

Sekitar tahun 1998, saat itu Syaikh Husain berada di Questa untuk mengunjungi mertuanya, ketika Syaikh Fattah memerintahkan beliau untuk datang ke Kepulauan Dominica secepatnya. Karena itu perintah guru, Syaikh Husain berangkat hari itu juga. Setibanya di kepulauan Dominica, Syaikh Fattah langsung mentahbiskannya sebagai Syaikh dalam tarikat Syadzili Darqawi dan Chisyti. Hujan turun dengan lebat saat pentahbisan itu terjadi dan sang guru memberinya nama baru, Syaikh Husain. Keluarga dan teman-teman dekatnya mengatakan sejak diangkat jadi Syaikh, perobahan total terjadi pada pribadi beliau menjadi seseorang yang lebih lembut dan halim. Murid-muridnya di kemudian hari mengenal beliau sebagai Syaikh yang jamal.

Sementara perubahan signifikan juga terjadi saat Syaikh Fattah lebih fokus pada minatnya bermusik. Waktu itu mereka tinggal di Taos, New Mexico. Saat berada di Afghanistan, Syaikh Fattah pernah tertarik pada penampilan grup musik tradional Kawali yang menyanyikan syair-syair Rumi. Terinspirasi oleh mereka Syaikh Fattah kemudian ingin membentuk grup musiknya sendiri untuk menyampaikan pesan-pesan ilahiah. Grup itu kemudian diberi nama Dust on the Road. Awalnya mereka menyanyikan syair-syair Syaikh Ibn al-Habib dan beberapa syair Syaikh al-‘Alawi. Tapi kemudian hari, group itu menyanyikan syair-syair yang diciptakan oleh Syaikh Fattah sendiri. Sejak tinggal di Blanco Texas, beliau memang banyak menciptakan syair-syair sebagai nasehat agama dan pengajaran bagi fuqara Amerikanya yang tak bisa membaca kitab-kitab berbahasa Arab.

Saat berada di Taos (setelah kembali dari Kepulauan Domonica), Syaikh Fattah tiba-tiba menyatakan keinginannya untuk tinggal di negara Islam. Hal itu karena lingkungan di Amerika semakin kurang kondusif bagi para fuqara dan anak-anak mereka.Tapi mereka mau pindah ke negara Islam yang mana? Syaikh Husain dan beberapa fuqara lain mengusulkan beberapa nama seperti Pakistan, India, Iran dan Turki. Suatu malam Syaikh Fattah bermimpi tentang sebuah negara yang tidak pernah ia kenal sebelumnya bernama Indonesia. Indonesia? Syaikh Husain yang lahir dan besar di Malaysia tentu kenal Indonesia, tapi beliau belum pernah ke sana. Syaikh Fattah kemudian menyuruh beberapa fuqara untuk mencari info tentang Indonesia di internet. Dan enam bulan kemudian beliau memutuskan bahwa mereka harus pindah ke Indonesia.

Pindah ke Indonesia

Syaikh Fattah kemudian mengutus Syaikh Husain dan beberapa fuqara muda ke Indonesia untuk mencari tempat bagi mereka di sana. Saat itu Indonesia baru saja mengalami pergolakan sosial politik besar dengan runtuhnya pemerintahan Orde Baru yang dipimpin presiden Soeharto. Dari info seorang muslim Indonesia yang mereka kenal melalui internet, Syaikh Husain mendapat tempat penginapan di daerah Kampung Melayu Jakarta Timur. Setelah 3 hari berada di penginapan, Syaikh Fattah menelpon dari Amerika dan mengatakan akan berangkat ke Indonesia esok harinya, padahal mereka belum menemukan tempat untuk beliau. Syaikh Husain mengingat ia duduk termenung di lobby penginapan memikirkan hal tersebut saat seseorang mendekatinya. Setelah mengetahui apa yang terjadi, orang tersebut secara sukarela menawarkannya sebuah rumah besar di daerah Pasar Minggu. Dan esok harinya, Syaikh Fattah bersama rombongan pertama dari Amerika resmi hijrah ke Indonesia.

Syaikh Fattah dan murid-muridnya tidak lama tinggal di Pasar Minggu karena persoalan visa tinggal. Pemilik rumah yang ternyata masih kerabat dekat dengan Pak Basalamah, menyarankan Syaikh Fattah menemui pemilik Universitas UMI tersebut di Makasar untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pak Basalamah yang tertarik dengan rombongan sufi dari Amerika itu, mengajak mereka pindah ke Makasar untuk melakukan sejumlah kerjasama dalam bidang pembangunan perumahan dan studi Islam. Selama beberapa tahun Syaikh Fattah dan murid-muridnya tinggal di Sulawesi Selatan, untuk akhirnya mereka kembali ke Jakarta.

Selama beberapa tahun di Indonesia Syaikh Fattah membina Grup Musik Debu (sebagai ganti nama ‘Dust on the Road’) untuk menyanyikan syair-syairnya yang sarat dengan pesan-pesan cinta ilahi pada masyarakat Indonesia. Sekarang group musik Debu yang digawangi putera Syaikh Fattah, Mustafa al-Daood, sudah dikenal luas oleh umat Islam di Indonesia. Mereka memberi warna baru pada musik-musik ruhani Islam di Indonesia dengan memasukkan musik tradisional dari berbagai negara Islam untuk mendukung musik mereka.

Dalam periode-periode tumbuh kembangnya grup musik Debu tersebut, Syaikh Husain tetap berkhidmat di Zawiyah gurunya. Setiap hari beliau menjalankan perintah Syaikh Fattah untuk mengajar dan memimpin wirid shubuh serta wirid-wirid lainnya di Zawiyah tersebut. Dalam periode tersebut, beliau tetap menekuni minatnya menelaah kitab-kitab klasik Islam. Beberapa di antara kitab tersebut telah diterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

Suatu ketika Syaikh Fattah menugaskan Syaikh Husain untuk mengadakan kelas baru untuk menjelaskan makna syair-syairnya pada fuqara dan anggota group Debu sendiri. Awalnya kelas itu hanya dihadiri fuqara Amerika yang ada di Zawiyah tersebut. Namun setelah itu sejumlah orang Indonesia ikut di kelas dan jumlah orang yang hadir semakin banyak sehingga memenuhi hampir ruang utama Zawiyah. Beberapa orang di antara mereka kemudian hari menjadi murid Syaikh Husain ketika beliau mendirikan Zawiyahnya sendiri di Parung, Bogor.

Zawiyah Hati Senang

Melanjutkan tradisi yang telah dilakukan para guru Syadzili sebelumnya, Syaikh Husain mengutamakan pengajaran agama bagi murid-muridnya. Pengajaran itu penting karena setiap murid harus dibekali ilmu sebelum melakukan suatu amal ibadah. Tanpa ilmu, ibadah hanya akan menjadi ritual kosong tanpa makna. Selain itu beliau juga mengajarkan tentang pengenalan diri (yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya). Di dalamnya terkandung pengenalan tingkat-tingkatan nafsu, tingkatan-tingkatan hati, tingkatan-tingkatan ruh, yang berawal dan berakhir pada yang Satu, al-Haqq.

Syaikh Husain juga menekankan untuk mengutamakan syari’at dan akhlak pada murid-muridnya. Karena tak ada jalan ruhani, jika mereka mengabaikan kedua hal itu. Setelah para murid melaksanakan kedua fondasi tersebut, beliau memberikan amalan-amalan khusus sesuai keadaan mereka masing-masing. Wirid umum adalah membaca al-Qur’an, memperbanyak shalawat pada Nabi Muhammad s.a.w., membaca Hizb Bahr, berzikir La ilaha ilallah atau Ism-ul-A’zham dalam jumlah dan waktu tertentu. Salah satu wirid lain dalam tarikat Syadzili Darqawiy adalah menghafalkan dan menyanyikan syair-syair guru kami terdahulu yang sarat pelajaran hikmah, akhlak, dan cinta ilahiah. Guru kami Syaikh Husain telah menterjemahkan sejumlah syair itu ke dalam bahasa Indonesia agar mudah difahami para murid.

Bentuk lain pengajaran yang diberikan Syaikh Husain adalah membiasakan murid untuk berkhidmat. Khidmat adalah salah satu bentuk suluk untuk melatih murid agar melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, ikhlas, serta istiqamah mencari ridha Allah semata. Dalam khidmat yang dilakukan secara gotong royong, para murid juga dilatih saling menghargai, toleransi, kerja sama kelompok serta mengendalikan ego diri. Dalam kegiatan bersama itu guru bisa lebih mengenal karakter masing-masing murid, untuk kemudian memberikan pengajaran yang sesuai untuk mereka.

Untuk itu syaikh Husain selalu mengadakan proyek-proyek yang harus dilakukan para murid. Salah satu proyek itu adalah pendirian rumah botol yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir ini. Setiap murid bisa menyumbangkan apa saja termasuk ide, waktu, tenaga dan dana sesuai kemampuan mereka. Selain itu beliau juga melakukan proyek membantu fakir miskin dan dhuafa serta memberikan pelatihan ketrampilan bagi para remaja dan ibu-ibu di sekitar Zawiyah.

Proyek lain yang dilakukan Syaikh Husain adalah membuat situs hatisenang.com. Situs itu sudah berjalan hampir tujuh tahun, dan respon positif diberikan oleh pembaca Indonesia dan pembaca dari berbagai belahan dunia lain. Sekarang situs itu hanya tersedia dalam bahasa Indonesia, tapi ke depan beliau akan membuatnya dalam bahsa Inggris dan bahasa Arab. In sya Allah.

Dalam situs hatisenang.com terdapat beragam ilmu keislaman mulai dari tafsir al-Qur’an, hadist, fiqh, sejarah Islam, tauhid, hikmah, akhlak, tashawwuf, dan lain-lain. Guru kami mengumpulkan semua sumber dari berbagai mazhab, kelompok dan thariqah-thariqah dalam Islam. Tujuannya selain agar orang yang membacanya bisa lebih faham tentang ajaran Islam, juga agar kita bisa saling mengenal antar mazhab dan golongan-golongan dalam Islam sehingga potensi perpecahan antar umat bisa dikurangi. Pertikaian antar golongan dalam Islam terjadi karena salah faham yang disebabkan oleh kurang mengenal ajaran kelompok lain.

Syaikh Husain sering mengatakan pada murid-muridnya bahwa buku adalah sumber ilmu. Karena itu beliau menggalakkan para murid untuk banyak membaca. Sekarang Syaikh Husain banyak mengumpulkan buku-buku karya ulama nusantara klasik dan kotemporer yang tidak banyak dikenalnya selama beliau berada di barat. Beberapa tahun terakhir Syaikh Husain banyak berkenalan dengan ulama-ulama nusantara yang dikenal damai, toleran dan memiliki kearifan tersendiri yang khas nusantara. Syaikh Husain mengakui perkenalan dengan ulama-ulama tersebut telah memberi pengaruh tersendiri bagi pemahaman keagamaannya. (In sya Allah ada tulisan khusus tentang ini).

Beberapa ucapan guru kami

  1. Apapun yang kalian lakukan, lakukanlah dengan sungguh-sungguh.
  2. Agama Islam awalnya bermula dari yang satu yaitu Nabi Muhammad SAW, tapi kemudian menyebar dan menjadi terpisah-pisah antara Sahabat, Tabi’in dan seterusnya. Salah satu tujuan saya adalah untuk mengumpulkan dan menyatukan kembali ajaran Nabi Muhammad SAW itu sebanyak-banyaknya.
  3. Ilmu itu bukan sesuatu yang dibaca dari buku. Ilmu yang sebenarnya adalah sesuatu yang berbentuk cahaya yang Allah campakkan ke dalam hati seseorang.
  4. Ilmu itu menjadi cahaya yang menyinari seluruh kewujudan kita menjadi kehaliman dan menyinar cahaya cinta.
  5. Bertambah ilmu bertambah kasih sayang pada semua makhluk Allah.
  6. Bukan ilmu namanya jika tidak dihubungkan dengan Allah.
  7. Kehalusan ilmu itu diperoleh dengan diam.
  8. Seorang mursyid hanya diperlukan bagi seseorang yang menginginkan Allah. Jika orang itu tidak menginginkan Allah, kehadiran mursyid tidak akan ada artinya baginya.
  9. Amal setiap orang berbeda, sesuai ilmu dan pemahamannya. Karena itu jangan membandingkan amal kita dengan orang lain. Yang pertama kali membandingkan amal itu adalah setan. Setan yang telah beribadah kepada Allah SWT selama ratusan ribu tahun di surga, merasa lebih baik dari Nabi Adam as yang baru diciptakan. Dan kita tahu bagaimana posisi setan sekarang.
  10. Semakin bersungguh-sungguh seseorang beribadah, semakin banyak ia memohon pertolongan pada-Nya. (dalam salah satu tafsir beliau tentang “Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn”).
  11. Kebanyakan murid mengharapkan karamah, tapi karamah terbesar adalah istiqamah.
  12. Kebaikan seseorang yang berbuat baik adalah keburukan bagi orang yg dekat pada Allah.
  13. Jati diri yang sebenarnya adalah fana. Setelah fana baru bisa merasakan huwa.
  14. Orang yang suka mengkafirkan orang lain, belum merasakan kemanisan iman dalam hatinya.
  15. Ilmu yang membuat seseorang tidak mau terlibat dalam perdebatan.
  16. Guru yang benar memfokuskan ajarannya untuk meniru akhlak Nabi Muhammad Saw, karena hanya itu satu-satunya jalan menuju Allah.
  17. Jika anda melihat/berfokus pada makhluk (dunia), anda memerlukan surga. Jika anda melihat/berfokus pada Allah, surga yang memerlukan anda.
  18. Yang banyak bicara, tidak merasakan. Yang tidak merasakan, tidak mengetahui.
  19. Banyak murid tertahan perjalanan ruhaninya karena ucapan yang tidak dijaga.
  20. Dalam setiap kejadian (ujian/masalah) sebenarnya Allah ingin membukakan pintu pada sesuatu yang luar biasa, tetapi manusia selalu hanya mau melihat yang biasa-biasa saja (yakni sibuk dengan masalah yang mereka hadapi).
  21. Jangan bicara saat anda ingin bicara. Tahan sejenak sampai anda meyakini bahwa anda bicara bukan karena nafsu.
  22. Jika seseorang selalu menghubungkan setiap kejadian dengan Allah, Allah akan memberinya pemahaman tentang kejadian tersebut.
  23. Guru yang benar hanya bergantung pada Allah dan membawa murid-muridnya untuk bergantung hanya pada Allah, bukan pada kemampuan, ilmu, amal atau keadaan-keadaan ruhani mereka.
  24. Seorang murid tak akan maju dalam (maqam) ruhani jika ia tidak memaafkan orang lain dan memaafkan dirinya sendiri.
  25. Jika sudah menghubungkan segala sesuatu dengan Allah, itulah hakikat zikir yang sebenarnya.
  26. Seorang murid itu seperti seekor burung merak. Orang-orang memuji bulunya yang indah, tapi jauh dilubuk hatinya ia merasa sangat sedih karena melihat kakinya yang jelek.
  27. Salah satu yang mengubah takdir adalah syukur.
  28. Awal perjalanan ruhani adalah takut pada tipuan nafsu sendiri melebihi takutnya saat ia bertemu dengan harimau yang buas.

Kegiatan di Majlis Dzikir Hati Senang

1). Kenapa dinamakan Majlis Dzikir Hati Senang?

Ketika ditanya kenapa majlisnya dinamakan, “Majlis Dzikir Hati Senang?.”
Guru kami, Syaikh Husain asy-Syadzili menjawab, “Karena memang itulah yang akan dirasakan oleh setiap orang yang datang (ke majlisnya).”

2). Kegiatan Rutin Majlis Dzikir Hati Senang

Majlis Dzikir Hati Senang diadakan dua kali seminggu:

Minggu pagi – jam 9:00am
Malam Sabtu – jam 8:00pm

~a. Majlis yang dilaksanakan setiap hari Minggu adalah Majlis Tafsir al-Qur’an. Majlis ini sudah berlangsung selama kurang lebih 8 tahun dan dimulai dari Juz terakhir (juz 30, Juz ‘Amma). Sampai tahun 2020 ini beliau sudah sampai pada surah al-Haqqah.

Dalam memberikan tafsir qur’an ini guru kami, Syaikh Husain, merujuk pada kitab-kitab tafsir terdahulu seperti tafsir Ibn Abbas, Ibn Katsir, ath-Thabari, asy-Syaukani, al-Mawardi, al-Qurthubi dan lain-lain. Guru kami juga menggunakan kitab-kitab tafsir dari guru-guru sufi seperti tafsir Ibn Arabi, al-Jailani, at-Tustari, Abu Thalib al-Makki, al-Qusyairi, Ibn ‘Ajibah, dan lain-lain.

~b. Majlis yang diadakan setiap malam Sabtu adalah Majlis Zikir. Sebenarnya guru kami hanya ingin mengadakan majlis malam Sabtu dan hari Minggu saja. Tapi karena banyak murid yang bekerja dan tempat tinggal mereka jauh dari Parung, guru kami menambah malam minggu bagi yang tak sempat datang pada malam Jum’at.

~c. Pembangunan Rumah Botol Majlis Dzikir Hati Senang yang masih berlangsung sampai sekarang. Setiap orang yang mendengarkan kata ‘rumah botol’ akan bertanya apa yang dimaksud dengannya. Ya, sesuai namanya rumah ini dibangun menggunakan botol yang dikumpulkan dari berbagai tempat kemudian diisi padat dengan tanah kering untuk digunakan sebagai pengganti bata.

~d. Menyediakan nasi kebuli/nasi bungkus/sembako untuk fakir miskin dan dhuafa setiap hari Ju’mat di Zawiyah Hati Senang. Dan pada hari tertentu juga memberikan bantuan sembako, pakaian dan lain-lain pada mereka.

 

Ditulis oleh Nefisra Viviani (Zaynab Ali)

Silsilah

Silsilah Sanad Syaikh Husain dari Tarekat Syadziliyah

  1. Hazrat Sayyidina Muhammad bin ‘Abdullah S.A.W.
  2. Hazrat Ali bin Abi Thalib k.w.
  3. Hazrat Hasan al-Bashri r.h.
  4. Hazrat Habib al-‘Ajami r.h.
  5. Hazrat Daud ath-Tha’i r.h.
  6. Hazrat Ma’ruf al-Karkhi r.h.
  7. Hazrat As-Sirri as-Saqathi r.h.
  8. Hazrat Al-Imam al-Junaid r.h.
  9. Hazrat asy-Syibli r.h.
  10. Hazrat ath-Tharthusi r.h.
  11. Hazrat Abul-Hasan al-Hakari r.h.
  12. Hazrat Abu Said al-Mubarak r.h.
  13. Hazrat Maulana ‘Abd-ul-Qadir al-Jailani r.h.
  14. Hazrat Abu Madyan al-Ghauts r.h.
  15. Hazrat Muhammad Shalih r.h.
  16. Hazrat Muhammad bin Harazim r.h.
  17. Hazrat Abd-us-Salam al-Masyisy r.h.
  18. Hazrat Syaikh Abul-Hasan asy-Syadzili r.h.
  19. Hazrat Abul-Abbas al-Mursi r.h.
  20. Hazrat Ahmad bin ‘Atha’illah r.h.
  21. Hazrat Daud al-Bakhili r.h
  22. Hazrat Muhammad Wafa r.h.
  23. Hazrat Ali Wafa r.h.
  24. Hazrat Yahya al-Qadiri r.h.
  25. Hazrat Ahmad al-Hadhrami r.h.
  26. Hazrat Ahmad Zarruq r.h.
  27. Hazrat lbrahim al-Fahham r.h.
  28. Hazrat ‘Ali ad-Dawwar r.h.
  29. Hazrat ‘Abd-ur-Rahman al-Madzjub r.h.
  30. Hazrat Yusuf al-Fasi r.h.
  31. Hazrat ‘Abd-ur-Rahman al-Fasi r.h.
  32. Hazrat Muhammad bin ‘Abdullah r.h.
  33. Hazrat Qasim al-Khashshash r.h.
  34. Hazrat Ahmad bin ‘Abdullah r.h.
  35. Hazrat al-‘Arabi bin ‘Abdullah r.h.
  36. Hazrat ‘Ali al-Jamal r.h.
  37. Hazrat al-‘Arabi bin Ahmad ad-Darqawi r.h.
  38. Hazrat Ahmad al-Badawi r.h.
  39. Hazrat Muhammad al-‘Arabi r.h.
  40. Hazrat al-‘Arabi al-Hawari rh.
  41. Hazrat Muhammad bin ‘Ali r.h.
  42. Hazrat Syaikh Muhammad bin al-Habib r.h.
  43. Hazrat Syaikh ‘Abd-ul-Qadir ash-Shufi r.h.
  44. Hazrat Syaikh Fadhlallah Hairi.
  45. Hazrat Syaikh Fattah r.h.
  46. Syaikh Husain.

Silsilah Sanad Syaikh Husain dari Tarekat Chisytiyah

  1. Hazrat Sayyidina Muhammad bin Abdullah S.A.W.
  2. Hazrat ‘Ali bin Abi Thalib k.w.
  3. Hazrat Hasan al-Bashri r.h.
  4. Hazrat Syaikh ‘Abd-ul-Wahid bin Zaid rh.
  5. Hazrat Fudhail bin ‘Iyadh r.h.
  6. Hazrat Sulthan Ibrahim bin Adham r.h.
  7. Hazrat Sadid-ud-Din Hudzaifah al-Mar’asyi rh.
  8. Hazrat Amin-ud-Din Hubairah al-Bashri r.h.
  9. Hazrat Mumsyad ‘Alwin ad-Dinawari rh.
  10. Hazrat Abu lshaq asy-Syami al-Chisyti r.h.
  11. Hazrat Abu Ahmad Faristanih al-Chisyti r.h.
  12. Hazrat Abu Muhammad bin Khawajah Abu Ahmad al-Chisyti rh.
  13. Hazrat Nashir-ud-Din Abu Yusuf al-Chisyti rh.
  14. Hazrat Khawajah Quthb-ud-Din Maudud al-Chisyti r.h.
  15. Hazrat Khawajah Syarif r.h.
  16. Hazrat Khawajah ‘Utsman Haruni rh.
  17. Hazrat Khawajah Mu’in-ud-Din al-Chisyti al-Ajmiri r.h.
  18. Hazrat Khawajah Quthb-ud-Din Bakhtiyar al-Kaki r.h.
  19. Hazrat Khawajah Farid-ud-Din Mas’ud Ganj Syakar r.h.
  20. Hazrat Khawajah Nizham-ud-Din Auliya’ Mahbub Ilahi r.h.
  21. Hazrat Khawajah Makhdum Nashir-ud-Din Cheragh Dihlawi r.h.
  22. Hazrat Syaikh Kamal-ud-Din ‘Allamah al-Chisyti r.h.
  23. Hazrat Syaikh Siraj-ud-Din al-Chisyti r.h.
  24. Hazrat Syaikh ‘Alim-ud-Din al-Chisyti r.h.
  25. Hazrat Syaikh Mahmud (dikenal sebagai) Rajjan al-Chisyti r.h.
  26. Hazrat Syaikh Jamal-ud-Din (dikenal sebagai) Jamman al-Chisyti r.h.
  27. Hazrat Syaikh Husain Muhammad al-Chisyti r.h.
  28. Hazrat Syaikh Muhammad al-Chisyti r.h.
  29. Hazrat Syaikh Yahya al-Madani r.h.
  30. Hazrat Syaikh Kalimullah Jahan Abadi r.h.
  31. Hazrat Syaikh Nizham-ud-Din Aurang Abadi r.h.
  32. Hazrat Syaikh Maulan Fakhr-ud-Din r.h.
  33. Hazrat Maulana Syah Niyaz Ahmad Barilawi r.h.
  34. Hazrat Syah Gulam (dikenal sebagai) Miskin Syah r.h.
  35. Hazrat Syah Wali Muhammad al-Chisyti r.h.
  36. Hazrat Syah Karamat Ali Sanghanawi r.h.
  37. Hazrat Syah Akbar Ali al-Chisyti r.h.
  38. Hazrat Syah Sajjad Husain al-Chisyti r.h.
  39. Hazrat Syah Ikram Husain al-Chisyti r.h.
  40. Hazrat Syaikh Fadhlallah Hairi.
  41. Hazrat Syaikh Fattah r.h.
  42. Syaikh Husain.

Album Mursyid

Galeri Foto Syaikh Husain Bersama Guru Beliau Syaikh Fattah

Galeri Syaikh Husain Bersama Para Masyayikh Lain

Galeri Portrait Syaikh Husain

3 komentar pada “Syaikh Husain asy-Syadzili ad-Darqawi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share via
Copy link